Ariel Numpang Nulis

Ibu Rini : Jasa dan Wejanganmu Membuatku Sukses

23 Nov 2016 - 14:42 WIB

Pada masa itu adalah momen terbaik bagi kebanyakan orang dimana kita bisa menimba ilmu pengetahuan dan mendapatkan teman serta kita mampu belajar untuk mandiri dalam mengarungi kehidupan.

Pada momen itu pasti diantara pembaca semua mempunyai seorang guru yang dianggap sebagai dewa penolong alias Guru Favorit yang sangat kita gemari entah karena cara beliau mengajar,cara prilaku kepada kita,tampang rupawan atau karena mata pelajaran yang beliau bawakan menjadi kegemaran kita. Dan juga pasti para pembaca semua juga punya Guru yang kita benci karena suatu sebab-sebab tertentu terkadang kita menyebutnya Guru Killer.

Di momen istimewa ini yaitu dalam rangka memperingati hari Guru yang ditetapkan pada tanggal 25 November kita lupakan dulu sang Guru Killer dan saya akan sedikit bernostalgia dengan para pembaca semua untuk bercerita mengenai Guru Favorit saya saat saya menginjak di bangku STM ( Sekarang SMK ), Mungkin juga bisa membuat para pembaca untuk Flashback pada masa-masa gemblengan sebelum terjun ke dunia yang padat akan persaingan.

Awal mulanya saya bersekolah di salah satu STM/SMK Negri di wilayah Sidoarjo Jatim pada saat itu saya masih duduk di kelas 1 dan bel sekolah pun berbunyi dimualailah mata pelajaran TTL ( teknik tenaga listrik ) saya mengira Guru yang akan mengajar adalah seorang pria, tapi ternyata seorang wanita yang memakai jilbab dan masih muda memperkenalkan diri dengan nama Ibu Rini.

Ibu Rini berstatus singgle lulusan terbaru dengan gelar S.pd yang diperolehnya disalah satu Universitas di surabaya.

Ditengah mata pelajaran tiba-tiba pandanganku mulai berubah seperti ada sesuatu yang berbeda dari senyuman Ibu Rini, Sejak saat itu mata pelajaran TTL menjadi mata pelajaran Favorit saya tiada kata Bolos untuk mata pelajaran satu itu.

Dipertengahan perjalanan kelas 1, Saya sering sekali menelpon Ibu Rini via warnet ( belum punya HP ) tetapi obrolan saya hanya mengenai beberapa pertanyaan seputar mata pelajaran TTL bukan masalah Romansa atau yang lainya, pada saat itu pemuda seperti saya masih sangat lugu dan belum berani mengutarakan isi hati agar bisa ngobrol dengan beliau saya pakai alasan telpon untuk bertanya seputar nata pelajaran yang diajarkan Ibu Rini.

Pada catur wulan pertama ( sekarang semester ) sampai catur wulan terakhir kenaikan kelas ibu Rini selalu memberikan bocoran soal-soal yang membuat nilai mata pelajaran TTL saya tembus dengan nilai 9 dan menempati peringkat 1 terus selama tiga catur wulan.

Sesekali saya berntanya-tanya didalam hati apakah Ibu Rini juga mempunyai perasaan seperti yang aku rasakan?. Dengan kenaikan kelas saya ke kelas 2 Ibu Rini sudah tidak mengajar saya lagi karena hanya mengajar untuk siswa kelas 1 saja dan kelas 2 di ajar oleh Bapak Drs. Darsono, tetapi walau begitu saya masih tetap berkomunikasi dengan Ibu Rini sesekali saya singgah ke rumah beliau tetapi masih dalam fase pembahasan mata pelajaran.

Dipertengahan kelas 2 seluruh siswa dan dewan Guru mendapat undangan perkawinan dari Ibu Rini dengan seorang pria yang bekerja sebagai Guru juga tetapi di sekolah yang berbeda.

Sejak saat itu saya sadar bahwa selama ini kedekatan saya dan kebaikan Ibu Rini terhadap saya hanya sebatas Hubungan Guru dan Murid semata, Karena saya sering mengajukan pertanyaan Ibu Rini mengira saya adalah murid yang sangat rajin dan mempunyai niat yang tinggi untuk mempelajari mata pelajaran yang beliau ajarkan.

Dengan menikahnya Ibu Rini sama sekali tidak mengendurkan nilai saya pada mata pelajaran TTL karena sudah terlanjur Favorit dan sangat gemar akan pelajaran itu.

Semangat belajar saya karena Ibu Rini tersebut sampai sekarang masih bermanfaat buat pekerjaan saya yang menekuni dunia Elektronika.

Terima Kasih Ibu Rini

“Tanpamu saya tidak akan bisa berkarya seperti sekarang ini”


TAGS   opini /


Author

Belajar Menjadi Orang Yang Berguna Bagi Orang Lain

Tulisan Terbaru

Komentar Pembaca

Pilihan Bacaan

Archive