Ariel Numpang Nulis

7 Tradisi dan Budaya Menyambut Hari Raya Idul Fitri

21 Jun 2016 - 12:14 WIB

Sebentar lagi Umat Muslimin seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idhul Fitri dimana semua kaum muslimin akan melakukan kegiatan silaturahim ke beberapa keluarga,kerabat dan handaitolan, Saling berjabat tangan dan saling memaafkan tiada lagi dendam tiada lagi permusuhan seluruh umat Islam melebur semua kebencianya di bulan yang penuh Rahmat dan Ampunan tersebut.

Beberapa jajanan dan kue-kue dipersiapkan di ruang tamu masing-masing rumah, serta membeli baju-baju baru untuk menyambut hari Raya Idhul Fitri nan suci penuh dengan ampunan baik Dari Allah SWT maupun dari manusia yang pernah kita jahati atau kita perlakukan dengan tidak baik.

Di berbagai daerah di Indonesia sendiri mempunyai tradisi yang berbeda-beda dalam merayakan hari Raya Idhul Fitri ini, Kali ini saya akan merangkum Tradisi dari berbagai Daerah di Indonesia dalam merayakan Hari Lebaran :

1. Tumbilotohe 

 

Tumbilotohe adalah tradisi pasang lampu minyak sebagai tanda bakal berakhirnya bulan suci Ramadhan di Gorontalo, biasa dilaksanakan pada tiga malam terakhir menjelang Hari Raya Idul Fitri. Berasal dari kata ’tumbilo’ yang berarti pasang dan ‘tohe’ berarti lampu, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad XV yang terus dipertahankan hingga sekarang.

Berabad-abad yang lalu saat belum ada listrik, warga Gorontalo secara sukarela memasang lampu minyak di depan rumah dan di jalan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah orang-orang yang ingin berangkat ke masjid di malam hari atau yang ingin membagikan zakat fitrahnya.

Lampu-lampu minyak yang dipasang di tanah lapang disusun dengan berbagai formasi hingga membentuk gambar masjid, kitab suci Alquran dan kaligrafi yang mempesona. Ini merupakan waktu yang sangat tepat untuk menikmati kota Gorontalo dengan sangat terang benderang.

2. Pawai Pedati

 

 

Pawai Pedati atau Pawai Pegon biasa digelar dihari lebaran ketujuh. Puluhan pedati yang setiap hari dipakai warga Jember untuk mengangkut pasir dan hasil panen, dialihfungsikan untuk membawa keluarga keliling desa hingga pesisir Pantai Watu Ulo. Tak lupa, pedati dihias dengan janur kuning dan hasil bumi.

Sesampainya di Pantai Watu Ulo, setiap anggota keluarga akan menyantap ketupat dan berbagi hidangan yang telah dibawa. Tradisi ini selalu terasa kental dengan suasana kekeluargaan.

3. Bedulang

 

 

Usai bermaaf-maafan, masyarakat Bangka memiliki cara unik untuk dinikmati bersama. Makan Begawa yang berarti makan bersama, tetapi karena penyajiannya dengan dulang atau tudung saji maka disebut juga Makan Bedulang.

Makan Bedulang tidak boleh menggunakan sendok, maka diwajibkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Mencuci tangan juga ada aturan sendiri yakni orang paling tua harus mendapat urutan pertama dan yang muda mendapat giliran paling akhir. Satu bedulang berisi berbagai lauk pauk menggugah selera lengkap dengan nasi merah, buah dan jus.

4. Grebeg Syawal 

 

 

Jika Anda mudik ke Yogya pastikan tidak melewati tradisi Grebeg Syawal yang merupakan wujud sedekah dari Raja kepada rakyatnya. Grebeg Syawal disimbolkan oleh Gunung Lanang yang berisi berbagai sayuran dan hasil bumi disusun secara rapi dan menjulang tinggi.

Grebeg Syawal disebut juga sebagai sedekah Sri Sultan, jadi tak mengherankan jika salah satu komponen wajib dalam grebeg adalah gunungan.

Prosesi Grebeg Syawal dilakukan setelah shalat Ied disekitar Alun-alun Utara Yogyakarta. Jangan lengah, karena begitu dimulai semua orang akan berebut sekuat tenaga dan secepat kilat. Aksi saling dorong untuk mengambil isi gunungan bisa saja terjadi.

5. Nujuhlikur / Ronjok Sayak

 

 

Nujuhlikur berarti malam ke-27 Ramadan dimana masyarakat Bengkulu akan membakar Lujuk yaitu tempurung kelapa yang disusun vertikal seperti obor. Tradisi bakar-bakaran ini digelar di lokasi yang telah ditentukan sebelumnya dan diikuti oleh warga dewasa dan anak-anak.

Nujuhlikur atau Ronjok Sayak biasa dilakukan oleh suku Serawai. Menurut kepercayaan setempat, batok kelapa yang disusun dan dibakar merupakan tanda ucapan syukur pada Tuhan sekaligus sarana mengirim doa untuk arwah sanak keluarga yang telah meninggal. Setelah acara bakar-bakaran, warga akan mengirim makanan untuk para tetangga dan kerabat dekat.

Biasanya sambil menunggu api di Lujuk padam, berbagai kudapan dapat dinikmati. Tradisi ini tentunya dapat membuat hubungan antar warga kian erat.

6. Meugang

Tradisi Meugang dilaksanakan 3 kali setahun di Aceh yakni sebelum Ramadan, saat Idul Adha dan Idul Fitri. Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih kurban berupa kambing atau sapi yang kemudian dimasak dan dinikmati bersama dengan keluarga, kerabat dan yatim piatu.

Meugang biasa dilakukan di masjid setempat. Daging hasil penyembelihan kemudian dimasak beramai-ramai dan dibagikan kepada kaum duafa. Tradisi ini terus dilaksanakan sampai sekarang untuk menjaga kerukunan antar warga Tanah Rencong.

Adalah pantang jika keluarga Aceh tidak memasak daging pada hari Meugang karena masyarakat disana memegang tradisi dan keyakinan bahwa nafkah yang dicari selama 11 bulan harus disyukuri dalam bentuk tradisi Meugang.

7. Festival Meriam Karbit

 

 

Pontianak menjadi salah satu kota dengan perayaan Lebaran paling meriah di Indonesia. Jika di sebagian kota atau daerah menyalakan petasan dilarang, Pemerintah Kota Pontianak malah memberi fasilitas bagi warganya. Setiap tahun, pemerintah setempat mengadakan Festival Meriam Karbit yang diselenggarakan dari H-3 sampai H+3 Lebaran.

Di tepi Sungai Kapuas, tepatnya di Jalan Imam Bonjol, akan berjejer meriam karbit raksasa buatan warga yang berpartisipasi. Setiap meriam terbuat dari kayu dengan diameter 50 cm dan panjang mencapai 4 M. Jika dinyalakan, suara meriam karbit ini bisa terdengar hingga radius 5 km.

 

Diatas adalah 7 Tradisi Unik yang ada di Indonesia dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri dan masih banyak Tradisi-Tradisi yang lain yang sampai sekarang masih menjadi kebudayaan bagi sebagian kalangan Masyarakat, Kita tidak boleh menyalahkan Tradisi dan Budaya yang mereka lakukan karena mereka melakukan semua itu dengan kepercayaan masing-masing yang diyakini untuk pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan adanya Tradisi dan Budaya seperti itu masih berlanjut membuat Negeri kita menjadi bermakna dan Natural, Indonesia kaya akan Tradisi dan Budaya yang sudah berakar kuat dalam keyakinan Masyarakat Setempat.

 


TAGS   Kebudayaan / religi /